Breaking News

Rudianto Widodo Bawa Potensi Ekonomi Palembang ke ASEAN International Sandbox Conference 2026 di Vietnam

Rudianto Widodo Bawa Potensi Ekonomi Palembang ke ASEAN International Sandbox Conference 2026 di Vietnam

Lapadnews.com, Hanoi, Vietnam- Dari pempek hingga Jembatan Ampera, berbagai identitas yang melekat pada Kota Palembang menjadi bagian dari kajian yang dipresentasikan dalam forum akademik internasional di Hanoi, Vietnam (23/09/2026)


Kajian tersebut dibawa oleh Rudianto Widodo, S.Pd., M.Ag., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang, dalam ASEAN International Sandbox Conference 2026 yang berlangsung di Vietnam National University, Hanoi.


Rudianto mempresentasikan paper berjudul “Digital Public Relations Strategy of Palembang City Government in Promoting Local Economic Potential”.


Penelitian tersebut berfokus pada strategi digital public relations Pemerintah Kota Palembang dalam memperkenalkan dan meningkatkan visibilitas potensi ekonomi lokal melalui komunikasi digital.


Rudianto mengangkat sejumlah sektor yang menjadi bagian dari kekuatan ekonomi Palembang. Di antaranya UMKM, kuliner, ekonomi kreatif, produk budaya, pariwisata serta berbagai kegiatan ekonomi perkotaan.

Rudianto Widodo  ke ASEAN International Sandbox Conference 2026 di Vietnam

Kekayaan lokal Palembang juga menjadi bagian penting dalam kajian tersebut.

Pempek, tekwan, model, pindang, songket, kain jumputan, lakuer, Jembatan Ampera, Sungai Musi hingga Pulau Kemaro dibahas sebagai bagian dari potensi lokal yang dapat dikomunikasikan melalui strategi digital.


Meneliti Cara Pemerintah Mengomunikasikan Potensi Daerah


Penelitian Rudianto menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif.

Ia menganalisis konten digital resmi pemerintah, publikasi pemerintah, dokumen terkait kebijakan serta pernyataan resmi yang terdokumentasi.


Analisis kemudian dilakukan melalui empat tahapan strategis public relations, yaitu research, action and planning, communication, dan evaluation.


Dari kajian tersebut, komunikasi digital pemerintah dinilai memiliki peran dalam membangun economic visibility.


Konsep tersebut merujuk pada kemampuan komunikasi digital untuk membuat potensi ekonomi lokal lebih terlihat, dikenal, mudah ditemukan informasinya dan mendapatkan perhatian publik.


Strategi yang dianalisis mencakup penyebaran informasi, promosi produk, komunikasi visual, storytelling, pembangunan citra institusi hingga city branding.


Namun, penelitian itu juga memberikan batasan terhadap kesimpulan mengenai efektivitas komunikasi digital.


Peningkatan visibilitas di ruang digital belum dapat secara langsung diartikan sebagai peningkatan penjualan, pendapatan, penciptaan lapangan kerja maupun investasi.


Penelitian Rudianto belum menemukan bukti hubungan sebab-akibat secara langsung antara komunikasi digital pemerintah dengan dampak ekonomi tersebut.


Karena itu, ukuran keberhasilan komunikasi digital tidak cukup hanya melihat performa konten di media sosial.


Dari Visibility ke Engagement dan Dampak Terukur


Dalam presentasinya, Rudianto menawarkan arah pengembangan strategi digital public relations pemerintah.


Menurut kerangka penelitian tersebut, komunikasi digital perlu bergerak dari sekadar visibility menuju engagement, feedback, market access, hingga measurable outcomes.

Rudianto Widodo di Forum Akademik Internasional di Vietnam
Rudianto Widodo di Forum Akademik Internasional di Vietnam

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui analisis audiens, segmentasi konten, stakeholder-centered storytelling, kampanye kolaboratif, mekanisme umpan balik dan evaluasi yang menggunakan indikator lebih konkret.


Dengan pendekatan tersebut, jumlah likes, followers, dan reach tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.


Pemerintah juga perlu melihat bagaimana publik berinteraksi dengan informasi, bagaimana keterlibatan terbentuk, apakah komunikasi membuka akses terhadap pasar dan apakah terdapat hasil ekonomi yang dapat diukur.


Hadir di Forum yang Dihadiri Akademisi dan Perwakilan Indonesia


Presentasi Rudianto berlangsung dalam rangkaian 3rd International Sandbox Conference.

Forum tersebut dihadiri sejumlah akademisi dan tokoh dari lingkungan pendidikan tinggi serta perwakilan Indonesia.

Di antaranya Assoc. Prof. Dr. Phạm Bảo Sơn, Vice President Vietnam National University, Hanoi. Phạm Bảo Sơn tercatat kembali dipercaya menjabat sebagai Vice President VNU untuk periode 2024-2029.

Hadir pula Dr. Nguyen Thi Hong Thuy, Head of the Faculty of Accounting and Auditing, VNU University of Economics and Business (UEB).

Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam, Adam Mulawarman Tugio, juga turut hadir dalam forum tersebut.

Di tengah forum akademik itu, Rudianto membawa konteks lokal Palembang ke dalam pembahasan yang lebih luas mengenai komunikasi digital pemerintah, pengembangan ekonomi daerah, identitas budaya dan city branding.


Palembang Tidak Hanya Menjadi Objek Promosi


Kajian yang dipresentasikan Rudianto tidak berhenti pada upaya memperkenalkan potensi Palembang kepada masyarakat melalui media digital.

Penelitian tersebut juga menyoroti kebutuhan untuk menghubungkan komunikasi dengan dampak yang dapat diukur.

Dalam kerangka yang ditawarkan, pemerintah perlu membangun komunikasi yang mampu menciptakan keterlibatan, memperoleh umpan balik, membuka akses pasar dan menghasilkan outcomes yang dapat dievaluasi.

Dengan demikian, potensi ekonomi daerah tidak hanya dibuat terlihat di ruang digital, tetapi juga diupayakan memiliki hubungan yang lebih jelas dengan kebutuhan masyarakat, pelaku usaha dan pemangku kepentingan.

Kehadiran Rudianto dalam forum tersebut sekaligus membawa isu lokal Palembang ke ruang akademik internasional.

Penelitian mengenai komunikasi digital, potensi ekonomi daerah, identitas budaya dan *city branding* yang berangkat dari Palembang dipresentasikan di hadapan peserta forum di Hanoi.

Dalam penutup presentasinya, Rudianto menyampaikan:

“The future of digital PR lies not only in making local economic potential visible, but in connecting visibility with meaningful engagement and measurable outcomes.”


Bagi Rudianto, Palembang bukan sekadar tempat lahirnya gagasan penelitian. Kota tersebut menjadi konteks lokal yang ia bawa ke dalam diskusi akademik internasional. (*red/Adi)


Rudianto Widodo merupakan akademisi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang.


*(red/Lapadnews)


Baca Juga
© Copyright 2022 - Lapad News (Kupas Tuntas Investigasi Terkini)