Lapadnews.com, Palembang – Kematian seorang karyawan berinisial ADO yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di kantor Saige Cenlentang, Palembang, pada Selasa (7/7/2026) malam, menjadi sorotan publik.
Pihak keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan yang perlu diungkap melalui penyelidikan mendalam dan meminta aparat kepolisian mengusut kasus tersebut secara objektif, transparan, serta profesional.
Peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu hanya beberapa jam itu memunculkan banyak pertanyaan di kalangan keluarga korban. Mereka berharap seluruh fakta dapat dibuka secara terang melalui proses hukum yang didukung pemeriksaan medis dan forensik.
Menurut keterangan keluarga, korban ditemukan meninggal dunia dalam posisi tergantung di salah satu ruangan kantor tempatnya bekerja. Namun, posisi tubuh korban dinilai tidak lazim.
Keluarga mengaku melihat kaki kanan korban masih menapak sempurna di lantai, sementara kaki kirinya berada dalam posisi tertarik ke belakang di bawah meja. Kondisi tersebut membuat keluarga mempertanyakan penyebab pasti kematian korban.
Selain posisi tubuh yang dianggap janggal, keluarga juga mengaku tidak menemukan beberapa tanda yang menurut mereka lazim terlihat pada korban meninggal akibat gantung diri. Saat proses pemandian jenazah, keluarga juga mengaku menemukan adanya luka gores pada bagian bawah perut dan leher korban.
Temuan-temuan tersebut semakin memperkuat harapan keluarga agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh berdasarkan bukti ilmiah.
Ayah korban, Andi, mengungkapkan bahwa sehari sebelum ditemukan meninggal dunia, putranya sempat menghubunginya untuk meminjam uang.
Menurut Andi, pada Senin (6/7/2026) malam korban meminta bantuan sebesar Rp500 ribu karena mengaku uang kantor terpakai. Keluarga saat itu hanya mampu mengirimkan Rp300 ribu, sedangkan sisa Rp200 ribu ditransfer keesokan harinya sekitar pukul 10.00 WIB.
"Itulah komunikasi terakhir kami dengan anak," ujar Andi.
Namun pada hari yang sama sekitar pukul 18.30 WIB, dua rekan kerja korban berinisial F dan A datang ke rumah orang tua korban.
Menurut ibu korban, Linda, keduanya menyampaikan bahwa korban diduga membawa uang perusahaan sekitar Rp25 juta serta satu unit sepeda listrik senilai kurang lebih Rp5 juta.
Linda juga mengaku, di hadapan keluarga, salah seorang rekan kerja menghubungi seseorang yang dipanggil Ci Evi melalui sambungan telepon dan menyampaikan informasi yang sama.
Dalam percakapan tersebut, keluarga mendengar adanya arahan untuk melacak seluruh bus maupun travel tujuan Yogyakarta karena korban diketahui masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota tersebut.
Tidak hanya itu, keluarga mengaku diminta menyerahkan Kartu Keluarga (KK) asli dan KTP asli milik korban sebagai jaminan. Namun, keluarga hanya memberikan KK asli.
Menurut Linda, dalam pertemuan itu juga disampaikan bahwa apabila dalam waktu 1 x 24 jam korban tidak memberikan kabar, persoalan tersebut akan dilaporkan. Bahkan, keluarga mengaku mendengar pernyataan bahwa korban tidak akan bisa lagi bekerja dan pihak kampus tempat korban kuliah akan dihubungi sehingga masa depannya akan hancur.
Tak lama setelah kedua rekan kerja meninggalkan rumah, sekitar pukul 21.30 WIB, keluarga justru menerima kabar mengejutkan bahwa korban telah ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di kantor tempatnya bekerja.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, orang pertama yang menemukan korban adalah F dan A. Disebutkan bahwa A mendobrak pintu ruangan tempat korban berada, sedangkan F meminta bantuan warga sekitar.
Rangkaian kejadian yang berlangsung dalam hitungan jam tersebut membuat keluarga mempertanyakan kronologi serta penyebab pasti kematian korban.
Atas dasar itu, ayah korban telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Kalidoni agar dilakukan penyelidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Keluarga berharap aparat kepolisian memeriksa seluruh pihak yang mengetahui rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan meninggal dunia, termasuk melakukan pemeriksaan forensik secara menyeluruh agar penyebab kematian dapat dipastikan berdasarkan alat bukti ilmiah.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai hasil penyelidikan maupun penyebab pasti kematian korban. Sementara itu, pihak Saige Cenlentang juga belum memberikan pernyataan resmi terkait kronologi kejadian maupun dugaan penggelapan dana yang sebelumnya disampaikan kepada keluarga.
Dengan demikian, seluruh informasi mengenai dugaan yang berkembang saat ini masih menunggu pembuktian melalui proses penyelidikan dan penyidikan aparat penegak hukum. Media ini akan memperbarui informasi apabila telah diperoleh keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pihak perusahaan. (*Red/Lapadnews)

Social Header