Opini - Pagi itu kopi hitam terasa lebih pahit dari biasanya. Bukan karena salah seduh, melainkan karena sebuah kabar yang membuat dada sedikit sesak: seorang gadis muda bisa melenggang masuk ke pesawat dengan menyamar sebagai awak kabin. Di warung kopi, obrolan ramai. Ada yang mencaci, ada yang mengejek, ada pula yang sibuk menunjuk siapa yang salah. Saya memilih diam, menyesap kopi, dan merenung—karena kisah ini lebih besar dari sekadar satu nama.
Di balik seragam putih dan kain batik merah, berdirilah Khairun Nisya, 23 tahun, seorang anak muda yang terhimpit ekspektasi. Ia bukan teroris, bukan pelaku kejahatan terorganisir. Ia adalah potret generasi yang takut pulang dengan cerita gagal. Ketika dunia menuntut kesuksesan sebagai syarat harga diri, sebagian orang memilih jalan pintas: terlihat berhasil, meski dengan kebohongan.
Namun persoalan utama bukan pada motif personal semata. Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana sebuah identitas visual—seragam, gaya bicara, dan kepercayaan diri—ternyata cukup ampuh untuk membuka pintu yang seharusnya terkunci rapat. Tanpa alat canggih, tanpa ancaman, tanpa drama, ia bisa berada di dalam kabin pesawat rute domestik sebagai awak tambahan. Di situlah retakan itu tampak jelas.
Sembilu di Balik Kain Batik
Saya membayangkan pagi Nisya di depan cermin: rambut disanggul rapi dengan tangan gemetar, seragam dikenakan dengan napas tertahan, dan langkah menuju bandara yang terasa berat. Bukan karena tasnya, tetapi karena beban batin yang dibawanya. Ada rasa takut ketahuan, ada rasa rindu diakui, dan ada harapan sederhana: membahagiakan orang tua.
Kita tidak membenarkan kebohongan itu. Namun kita juga tak boleh menutup mata pada akar persoalan sosialnya. Dunia yang memuja pencitraan sering kali melupakan kejujuran. Seragam menjadi simbol status, bukan sekadar fungsi. Dan ketika simbol lebih dipercaya daripada sistem, di situlah masalah bermula.
Alarm di Atas Awan
Dalam dunia teknologi, dikenal istilah white hat hacker—orang yang masuk ke sistem untuk menunjukkan celah, bukan merusak. Peristiwa ini, sadar atau tidak, bekerja dengan logika yang sama. Tanpa niat jahat, sebuah celah keamanan terbuka di depan mata publik.
Pertanyaannya sederhana namun menggelisahkan: jika seorang anak muda dengan niat personal bisa lolos, bagaimana jika yang datang berikutnya adalah mereka yang membawa niat buruk? Keamanan penerbangan tidak boleh bergantung pada seragam dan asumsi. Ia harus berdiri di atas verifikasi data, sistem berlapis, dan prosedur yang tak bisa ditipu oleh penampilan.
Retakan yang Harus Diperbaiki
Kasus ini telah diselesaikan secara hukum. Namun bagi pengguna jasa penerbangan, cerita ini tidak selesai di sana. Ia adalah catatan penting—bahkan peringatan keras—bahwa sistem keamanan kita membutuhkan evaluasi menyeluruh. Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk menutup celah sebelum dimanfaatkan pihak yang salah.
Maskapai dan otoritas terkait seharusnya melihat peristiwa ini sebagai stress test gratis. Sebuah kesempatan langka untuk bercermin dan memperbaiki diri. Karena keselamatan di udara bukan hanya soal prosedur di atas kertas, melainkan tentang rasa aman yang nyata bagi setiap penumpang.
Saya menghabiskan sisa kopi hitam pagi itu dengan satu kesimpulan: kita tidak sedang membela kebohongan, tetapi belajar dari kejujuran yang muncul tanpa sengaja. Seragam batik boleh saja indah, namun keamanan langit kita tidak boleh retak karenanya.
Kini saatnya memperbaiki celah itu—agar setiap penerbangan bukan hanya membawa kita ke tujuan, tetapi juga pulang dengan rasa aman. (*Red/Hardi)
Oleh: Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam, Pelanggan Setia Batik Air Lion Group

Social Header