Penelitian mengenai peran TPQ ini dilakukan oleh mahasiswi bernama Astika Sari pada 19 November 2025. Dalam pengamatannya, Astika menyoroti bagaimana TPQ Hj. Saudah berhasil menjadi penyangga pendidikan agama di lingkungan masyarakat, meski fasilitasnya sederhana: beralaskan ambal, meja lipat, kipas angin, serta buku Iqra’.
Yang paling menonjol, menurut Astika, bukan fasilitasnya, melainkan pengabdian para ustazah. Mereka mengajar dengan penuh kesabaran, membimbing anak-anak mengenal huruf, memperbaiki makhraj, dan menanamkan adab, tanpa tekanan akademik atau persaingan.
Kesederhanaan ini justru memungkinkan terjalinnya kedekatan emosional antara pengajar dan anak-anak, yang jarang ditemukan di sekolah formal modern.
Astika juga mencatat tantangan sehari-hari yang dihadapi TPQ Hj. Saudah, mulai dari anak-anak yang sulit fokus, minat belajar yang naik turun, hingga kehadiran yang sering dipengaruhi cuaca.
Meski demikian, donatur lokal dan iuran sukarela mampu menopang kebutuhan dasar TPQ, sehingga lembaga ini tetap berjalan konsisten.
Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan nonformal seperti TPQ tidak sekadar pelengkap pendidikan formal, melainkan sering menjadi penyangga utama pendidikan agama di masyarakat. Fleksibilitas, kedekatan, dan biaya terjangkau menjadikannya solusi nyata bagi kebutuhan riil warga.
TPQ Hj. Saudah, meski kecil dan sederhana, membuktikan satu hal penting: pendidikan terbaik lahir dari kepedulian dan ketulusan, bukan kemewahan.
Hasil pengamatan Astika Sari menegaskan bahwa lembaga-lembaga seperti ini tetap relevan di era modern dan digital, membentuk karakter dan spiritualitas anak-anak Palembang dari ruang kecil yang penuh makna. (*red/Adi)


Social Header